RADIOLOGI ZONE

Featured Post

SOP ( STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ) MRI BREAST

Rumah Sakit Z PEMERIKSAAN MRI PAYUDARA ( BREAST) Standar Operasional Prosedur ...

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, October 26, 2017

CONTOH MAKALAH RADIOLOGI | ANODE HEEL EFFECT | PENGARUH ANUDE HEEL EFFECT PADA HASIL GAMBARAN PEMERIKSAAN OS PEDIS

BAB  I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
        Sinar x pertama kali ditemukan oleh Wilhem Conrad Rontgen seorang ahli fisika di Universitas Wurzburg, Jerman pada bulan November 1895 sewaktu melakukan eksperimen dengan sinar katoda. Penemuan Rontgen ini merupakan suatu revolusi dalam dunia kedokteran. Dan kini pemanfaatannya sudah begitu meluas dalam berbagai bidang kedokteran, terutama di bidang radiologi.
Untuk meningkatkan pelayanan Radiodiagnostik yang berkualitas tinggi, maka kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan dituntut agar dapat ditingkatkan. Di dalam Radiodiagnostik yang perlu diperhatikan adalah kualitas sumber daya manusia, kualitas diagnose, kualitas fasilitas radiologi dan  tindakan Proteksi. 
        Pada kualitas diagnose perlu ditingkatkan kualitas hasil gambaran (radiograf). Kualitas radiograf sangat dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain posisi, factor eksposi, proses pencucian dan karakteristik tabung sinar x yang digunakan.
       Kemiringan anoda adalah salah satu karakteristik dari tabung sinar x yang dirancang untuk mengarahkan berkas sinar x tetapi kemiringan anode akan menyebabkan intensitas sinar x yang berbeda.  Penyebaran sinar x yang tidak merata akan berpengaruh pada kualitas radiograf yang dihasilkan, hal ini menimbukalkan kerugian karena akan menyebabkan perbedaan densitas pada radiograf meskipin objek mempunyai ketebalan yang berbeda. 

1.2  Rumusan Masalah 

      Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka didapat rumusan masalah adalah "Bagaimana pengaruh posisi tabung pada hasil gambaran Pedis."
1.3 Batasan Masalah

      Dalam penelitian ini, penulis membatasi permasalahan hanya pada hasil radiograf Pedis. 

1.4 Tujuan Penelitian 

       Untuk mengetahui pengaruh posisi tabung terhadap hasil radiograf.

1.5 Sistematika Penulisan 

     Sistematika penulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran sekilas tentang penelitian  ini yang tersusun dari :

BAB I.  PENDAHULUAN
Bab ini merupakan awal dari penulisan yaitu membahas tentang pendahuluan, latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II.  TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan anatomi, teknik pemeriksaan,anoda heel effect, kualitas gambaran, kerangka konsep, definisi operasional, proteksi radiasi.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN  
Bab  ini  menjelaskan  metode  penelitian  yang  mencakup : Desain penelitian, waktu dan tempat penelitian, metode pengumpulan  data, alat-alat dan bahan yang digunakan dan analisa data.

BAB IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab  ini membahas  tentang hasil penelitian dan sekaligus berisi pembahasan.

BAB V.    PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan  yang didapat penulis  pada saat penelitian. 

DAFTAR PUSTAKA




BAB  II
TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi 
     2.1.1  Pedis

      Pedis terdiri dari tujuh buah tulang tarsal termasuk talus, kalkaneus, kuboid, navikulare dan tiga kuneiforme, tulang metatarsal dan phalang.

1. Talus

Terdiri dari corpus, colum dan caput.
Menyalurkan berat badan dari tibia ke tulang-tulang penahan berat yang lain pada kaki.

2. Kalkaneus 

Merupakan tulang yang paling besar dan paling kuat pada kaki , yang terletak di bawah talus.
Membentuk tumit dan bersendi dengan talus ke arah superior dan cuboid  ke arah anterior.

3. Navikulare 

Merupakan suatu tulang terbentuk perahu, terletak antara caput tali dan tiga tulang kuneiforme.
4.Kuboideum 

Merupakan tulang tarsal yang terletak paling lateral.

5. Tulang-tulang Kuneiforme
Merupakan tulang-tulang berbentuk baji.
Bersendi dengan os. Navikulare ke arah posterior dan dengan tiga osa metatarsalia ke arah anterior.

6. Metatarsal 

Terdapat lima tulang metatarsal. Tulang tulang ini merupakan tulang pipa. Ujung proximal bersendi dengan tulang tarsal. Ujung distal bersendi dengan phalang proximal.

7. Phalang

Sama dengan jari jari pada tangan  tetapi lebih pendek. 



Gambar 2.1 Anatomi Pedis (Syaifuddin, 2010)

2.2 Teknik Pemeriksaan Radiografi

Adapun teknik pemeriksaan os Pedis proyeksi AP, adalah sebagai berikut ;


Gambar 2.2 Posisi Pasien (Merrils)
1. Posisi Pasien 

Tempatkan pasien dalam posisi supine, kemudian fleksikan lutut sisi yang diperiksa dengan menempatkan telapak kaki kuat-kuat pada meja.
2.Posisi Objek

a. Posisikan kaset dibawah kaki, pusatkan pada dasar metatarsal ke tiga, dan aturlah sehingga garis tengahnya parallel dengan sumbu panjang kaki.
b.Perintahkan pasien memfleksikan lutut berlawanan dengan sandaran lutut pada sisi yang diperiksa.
c. Pada posisi kaki ini, keseluruhan permukaan plantar diletakkan pada kaset.
d. Gunakan shield Gonad. 

3. Central Ray
 Arahkan central ray tegak lurus terhadap kaset yang diarahkan ke dasar metatarsal ketiga.

4. Struktur Gambaran 
Gambar hasil akan menunjukan sebuah proyeksi AP (dorsoplantar).


Gambar 2.3 Radiograf Os Pedis Proyeksi AP (Merrils)

5. Kriteria Evaluasi

a. Tidak ada rotasi kaki
b. Overlap dasar-dasar metatarsal kedua sampai kelima
c. Gambaran ruas jari kaki dan tarsal distal ke talus seperti metatarsal


2.3 Terjadinya Sinar-x

       Tabung sinar-x merupakan sebuah tabung yang terbuat dari bahan gelas yang hampa udara. Di dalam tabung sinar-x ini terdapat dua dioda yaitu katoda dan anoda denga katoda bermuatan negative dan anoda bermuatan positif. Saat filament yang berada di katoda dipanaskan, filament ini akan mengeluarkan electron. Semakin lama dipanaskan, electron yang keluar dari filament akan semakin banyak sehingga terjadilah apa yang disebut dengan awan electron. 
       Kemudian antara katoda dan anoda diberi beda potensial yang sangat tinggi, minimal 40 kV (40.000 volt), sehingga electron yang berada di katoda akan bergerak dengan sangat cepat menuju anoda. Electron yang bergerak menuju anoda dengan sangat cepat ini, akan menumbuk bagian kecil dari anoda yang disebut dengan target. Dan terjadilah 99%  panas dan 1% sinar-x. (Rahman, 2009).

2.4 Sifat-sifat sinar-x

Sinar-x sebagaimana gelombang elektromagnetik lainnya mempunyai sifat. Sifat-sifat sinar-x tersebut adalah : 
1. Mempunyai panjang gelombang () yang sangat pendek yaitu antara  s/d  m.
2. Mempunyai energy yang sangat besar yaitu antara  s/d  eV sehingga sinar-x mempunyai daya tembus yang besar pula.
3. Mengalami atenuasi (perlemahan) intensitas setelah mengenai bahan. 
4. Tidak terlihat, tidak terasa dan tidak berbau.
5. Dapat memendarkan beberapa jenis bahan tertentu (biasanya bahan posfor).
6. Tidak berpengaruh terhadap medan magnet maupun medan listrik. 
7. Dapat menghitamkan emulsi film. 
8. Mempunyai efek terhadap sel-sel hidup, efek ini bisa bersifat negatif tetapi ada juga yang bersifat positif.
9. Apabila mengenai suatu bahan/materi akan terjadi tiga hal tersebut :
a. Dipantulkan (dengan  energi yang lebih lemah) 
b.  Diserap
c. Diteruskan
(Rahman, 2009)

2.5 Intensitas sinar-x

       Intensitas berkas sinar x  dapat diartikan sebagai besarnya energy sinar x yang mengalir melalui penampang seluas 1 cm2 persatuan waktu. Intensitas sinar x dipengaruhi oleh tegangan tabung dan kuat arus tabung (Bushong, 1988). Semakin tinggi tegangan tabung yang digunakan akan dihasilkan sinar x dengan panjang gelombang yang lebih pendek sehingga memiliki daya tembus yang besar. Penambahan tegangan tabung juga akan menambah jumlah pancaran radiasi dari target atau meningkatkan intensitas radiasi dari target atau meningkatkan intensitas radiasi yang dipancarkan. (Chesney, 1980)

2.6 Tabung sinar-x

      Tabung Sinar-x merupakan sebuah tabung yang terbuat dari bahan gelas yang hampa udara. Di dalam tabung sinar-x inilah terbentuk sinar-x.  Tabung sinar-X adalah ruang hampa yang terbuat dari kaca tahan panas yang merupakan tempat sinar-X diproduksi. Tabung sinar x adalah komponen yang utama yang terdapat pada pesawat sinar-x.

Syarat-syarat terjadinya sinar-x pada tabung adalah :
1. Sumber Elektron 
Sumber electron adalah kawat pijar atau filament (katode) didalam tabung rontgen. 
2. Gaya pemercepat elektron 
Gaya tersebut tergantung pada tegangan yang dipasang pada tabung Rontgen.
3. Ruang yang hampa udara 
4. Alat pemusat berkas elektron 
Alat ini menyebabkan elektron-eloktron tidak berpencar, tetapi terarah ke bidang focus.
5. Benda penghenti gerakan elektron/target 
Berupa keeping wolfram yang ditanamkan didalam tembaga pada tabung rontgen. 

Gambar 2.4 bagian tabung Rontgen (Hoxter, 1973)
Keterangan gambar 2.4 :

1. Katoda
2. Filament
3. Bidang Fokus
4. Keeping wolfram
5. Ruang hampa
6. Kaca keras
7. Anoda
8. Diafragma 
9. Berkas kerucut sinar x


Komponen-komponen utama tabung sinar x adalah 
1. Katoda / elektroda negatif (sumber elektron)
2. Anoda / elektroda positif (acceleration potential)
3. Focusing cup 
4. Rotor atau stator (target Device) 
5. glass metal envalope (vacum tube) 
6. Oil 
7. Window

1. Katoda
         Katoda terbuat dari nikel murni dimana celah  antara 2 batang katoda disisipi kawat pijar (filamen) yang menjadi sumber elektron pada tabung sinar-X. Filamen terbuat dari kawat wolfram (tungsten) digulung dalam bentuk spiral. 

2. Anoda 
         Anoda atau  elektroda positif  biasa juga disebut sebagai target jadi anoda disini berfungsi sebagai tempat tumbukan elektron. 
3. Foccusing cup 
      Fucusing cup ini sebenarnya terdapat pada katoda yang berfungsi sebagai alat untuk mengarahkan elektron secara konvergen ke target agar elektron tidak terpancar ke mana-mana. 
4. Rotor atau stator 
      Rotor atau stator ini terdapat pada bagian anoda yang berfungsi sebagai alat untuk memutar anoda. 
5. glass metal envalope (vacum tube)
Glass metal envalope atau vacum tube adalah tabung yang gunanya membukus komponen-komponen penghasil sinar x agar menjadi vacum atau kata lainnya menjadikannya ruangan hampa udara.
6. Oil 
Oil ini adalah komponen yang cukup penting ditabung sinar x karena saat elektron-elektron menabrak target pada anoda, energi kinetik elekron yang berubah menjadi sinar-X hanyalah ≤ 1% selebihnya berubah menjadi panas mencapai 2000 0C, jadi disinalah peran oil sebagai pendingin tabung sinar x.
7. Window
Window atau jendela adalah tempat keluarx sinar x . window terletak di bagian bawah tabung . tabung bagian bawah di buat lebih tipis dari tabung bagian atas hal ini di karenakn agar sinar x dapat keluar .


2.7 Anoda heel effect

           Sebagaimana diketahui bahwa kenaikan kV akan mempengaruhi kenaikan intensitas sinar x. Namun ternyata intensitas sinar x yang dikeluarkan oleh anoda kekuatannya berbeda-beda. Perbedaan intensitas ini selain karena perubahan kV, juga diakibatkan oleh sudut sinar x yang dibentuk anoda.    Perbedaan intensitas sinar x akibat perbedaan sudut pada anoda ini disebut dengan Anode Heel Effect. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa intensitas sinar x bernilai 100 % berada pada garis central ray atau pusat sinar. Hal ini mungkin mudah dipahami oleh banyak orang sebab biasanya dipusat keluarnya sebuah energy, disitulah memiliki kekuatan penuh. 


Gambar 2.5 intensitas sinar x
(http://aga152aulia.files.wordpress.com/2013/10/anoda-heel-effect.jpg)

       Namun pada gambar diatas terjadi sebuah fenomena yang mungkin perlu penjelasan khusus dimana intensitas sinar x  mengalami kenaikan justru ketika arah sinar bergeser menuju arah katoda. Bias dilihat sama-sama pada gambar bahwa terdapat kenaikan intensitas sebesar 103 %, 104 % dan 105%.
         Fenomena kenaikan intensitas sinar x pada arah sinar menuju katoda ini dapat dijelaskan dengan melihat anoda sebagai tempat menumbuknya electron. Anoda sebagai tempat menumbuknya electron arahnya tidak lurus namun memiliki sudut. Sudut ini dibentuk dengan tujuan agar sinar x yang dihasilkan keluar menuju window pada tabung sinar x dan jatuh tegak lurus dengan kaset. Sesuai dengan tujuannya tadi, sudut yang dibentuk akan mengarah ke katoda. Karena sudut anoda yang mengarah ke katoda inilah maka intensitas sinar x  akan meningkat lebih dari pada pusat sinar. Namun meningkatnya intensitas ini hanya terjadi  pada daerah  yang tidak begitu jauh dari pusat sinar  sebab setelah menjauhi pusat sinar, intensitas sinar x juga akan semakin menurun. 
          Anode Heel Effect  ini bias dimanfaatkan untuk melakukan pemeeriksaan  pada objek yang panjang tetapi memiliki ketebalan yang tidak sama, sementara harus menghasilkan densitas yang sama. Biasanya Anode Heel Effect  ini dimanfaatkan untuk pemeriksaan os Pedis. Pemeriksaan os Pedis memenuhi syarat yaitu tulang panjang dan memiliki ketebalan yang berbeda. Os Pedis lebih tebal bagian proximal dibandingkan bagian distalnya. Untuk menghasilkan densitas yang sama antara bagian distal dan proximal, maka harus diatur bagian proximal yang memiliki ketebalan lebih dibandingkan dengan bagian distal, diletakkan di bawah katoda dan bagian distal diletakkan dibawah anoda. Dengan begini, bagian proximal yang lebih tebal akan ditembus oleh sinar x dengan intensitas lebih besar dibandingkan bagian distalnya, sehingga gambaran yang dihasilakan akan memiliki densitas yang relative sama antara bagian distal dengan proximal dari os Pedis tersebut. (Rahman, 2009)




2.8 Terjadinya Gambaran
       Butir-butir perak bromida (AgBr) di dalam emulsi terdiri dari ion-ion Bromida negatif (Br-) dalam susunan geometri yang disebut cristal lattice. Apabila butir AgBr terkena cahaya tampak atau sinar-x maka beberapa ion bromida dalam cristal melepaskan electron. Electron-electron ini nantinya akan di tangkap oleh sebuah bagian dari film yang disebut sensitivity speck yang berada di dalam cristal. 
Dengan adanya penangkapan electron-electron tersebut maka sensitivity speck menjadi bermuatan negatif. Ion-ion perak positif yang bebas dapat ditarik oleh electron yang terdapat pada sensitivity speck sehingga terjadilah netralisasi ion perak oleh electron-electron tersebut. Kejadian tersebut berulang-ulang dengan cepat dan tertimbunlah banyak atom perak pada sensitivity speck yang merupakan bagian daari bayangan laten (Rahman, 2009).

2.9 Kualitas Gambaran

Sebuah radiograf diharuskan bisa memberikan informasi yang jelas dalam upaya menegakkan sebuah diagnosa. Untuk memenuhi kualitas gambar radiografi yang tinggi, maka sebuah radiograf harus memenuhi beberapa aspek yang akan dinilai pada sebuah radiograf yaitu densitas, kontras, ketajaman dan detail.
1. Densitas
Pengertian densitas yang umum adalah derajat kehitaman pada film. Hasil dari eksposi film setelah diproses menghasilkan efek penghitaman karena sesuai dengan sifat emulsi film yang akan menghitam apabila di eksposi. Derajat kehitaman ini tergantung pada tinggat eksposi yang diterima baik itu kV maupun mAs.
2. Kontras 
Kontras adalah perbedaan densitas pada area yang berdekatan dalam radiograf. Semakin besar nilai kontras, maka gambaran akan semakin jelas terlihat.
3. Ketajaman 
Jika kontras di definisikan sebagai perbedaan densitas, maka ketajaman memperhatikan bagaimana perubahan densitas pada perbatasan antara daerah yang berdekatan. Batas antara dua area yang muncul bisa sangat tajam, hal ini dikarenakan terhadap perubahan drastis nilai densitas pada batas tersebut. Dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi nilai kontras, maka semakin tajam gambar yang dihasilkan. 
4. Detail 
Detail adalah kemampuan untuk memperlihatkan struktur yang sangat kecil pada sebuah film.  

2.10 Proteksi Radiasi
       Mengingat radiasi dapat membahayakan kesehatan, maka pemakaian radiasi perlu diawasi, baik melalui peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pemanfaatan radiasi dan bahan-bahan radioaktif maupun adanya badan pengawas yang bertanggungjawab agar peraturan-peraturan tersebut diikuti. Di Indonesia, badan pengawas tersebut adalah Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir).
       Proteksi radiasi yang dipakai sekarang ditetapkan oleh Komisi Internasional untuk Proteksi Radiasi (International Commission on Radiological Protection, ICRP) dalam suatu pernyataan yang mengatur pembatasan dosis radiasi, yang intinya sebagai berikut:
1. azas justifikasi : Suatu kegiatan tidak akan dilakukan kecuali mempunyai keuntungan yang positif dibandingkan dengan risiko  
2. azas optimasi : Paparan radiasi diusahakan pada tingkat serendah mungkin yang bisa dicapai (as low as reasonably achievable, ALARA) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial, ,
3. azas limitasi : Dosis perorangan tidak boleh melampaui batas yang direkomendasikan oleh ICRP untuk suatu lingkungan tertentu,.

1. Proteksi Radiasi untuk Petugas Radiasi
Menurut Badan Tenaga Atom Nasional (2006), dosis radiasi yang diperkenankan terhadap petugas radiasi sebesar 20 mSv pertahun. Usaha - usaha yang harus dilakukan adalah :
a. Radiografer harus berlindung dibalik tabir proteksi radiasi pada saat dilakukannya penyinaran.
b. Radiografer tidak diperkenankan untuk memegang pasien pada saat dilakukannya penyinaran.
c. Radiografer harus menggunakan alat pencatat dosis radiasi personil.

2. Proteksi Radiasi untuk Penderita
Menurut Ballinger (1999), tindakan proteksi radiasi yang bisa dilaksanakan adalah :
a. Filtration (penyaringan)
Filtrasi minimal adalah 2,5 mm Al untuk semua tabung flouroscopy dan untuk tabung radiografi di atas 70 kVp. Tujuan dari pemberian filtrasi adalah untuk mengurangi jumlah sinar-x berenergi rendah yang mencapai pasien. (Ballinger, 1999).
b. Collimation (kolimasi)
Kolimasi adalah pembatasan sinar-x yang mencapai objek yang diperiksa, karena semakin lebar kolimasi semakin besar dosis yang diterima (Ballinger, 1999)
c. Shielding Khusus
Menurut Ballinger (1999), gonad shielding digunakan pada situasi berikut ini :
Ketika pasien pada masa reproduksi.
Ketika gonad berada dekat pada daerah yang akan mendapat paparan sinar-x.
Penggunaan shield gonad mengurangi dosis gonad mendekati nol.
d. Teknik Radiografi
Teknik radiografi bukan hanya mempengaruhi kualitas gambar tapi juga berpengaruh besar pada dosis pasien. Semakin tinggi kVp (tegangan tabung) maka dosis yang diterima pasien bisa berkurang, bila mAs (arus dan waktu penyinaran) tinggi maka akan meningkatkan dosis pasien (Ballinger, 1999).
2.11 Kerangka Konsep




BAB III
Metodologi Penelitian

1.                  Rancangan Penelitian
Metode yang dipakai dalam eksperimen ini adalah dengan menggunakan teknik radiografi, untuk melihat hasil radiograf terhadap anode heel effect.
2.                  Tempat dan waktu
Tempat penelitian       : Rs X
Waktu penelitian         : Selasa, 25 Desember 2013
3.                  Langkah langkah Penelitian
1.                  Alat dan bahan 
1.                   Pesawat Rontgen  Rs X
Merek              : TOSHIBA
Kapasitas         : 200 Ma
Jenis                : Stasioner
2.                  Film Rontgen
Merk Film                   : Fuji
Jenis Film                    : blue Sensitive – Double Emulsi
Ukuran                        : 30 x 40
3.                  Kaset Rontgen
Ukuran                        : 30 x 40
4.                  Shield Gonad
5.                  Marker
6.                  Densitometer

1.                  Prosedur Kerja Penelitian
1.    Langkah pertama yang harus dilakukan pada penelitian ini adalah menyiapkan alat yang digunakan.
2.    Selanjutnya hidupkan pesawat rontgen
3.    letakkan kaset di atas meja pemeriksaan.
4.    Kaset diposisikan secara horizontal, dibagi dua.
5.    Posisikan pasien di atas meja pemeriksaan, posisikan objek (pedis ) di atas kaset.
6.    Lletakkan bagian distal dari os pedis sejajar dengan katoda dari sinar x
7.    Atur jarak antara tabung dengan kaset sebesar 90 cm
8.    Atur faktor eksposi dengan     : Kv (46) ; mAs (4)
9.    Lakukan Eksposi
10.Lakukan kembali pemeriksaan tersebut dengan catatan bagian proximal pedis sejajar dengan bagian anoda tabung sinar x.
11.Selanjutnya Lakukan pencucian dengan prosesing otomatis
12.Gunakan densitometer untuk mengukur densitas film radiograf.


BAB IV
PEMBAHASAN
1.                  Pesawat Rontgen



 

Gambar 4.1 Pesawat Rontgen R.S X
Gambar 4.2 bagian ANODA di pesawat rontgen



Gambar 4.3 bagian katoda pesawat rontgen

Gambarr 4.4 Kaset yang digunakan ukuran 30 x 40 cm



2.                  Proyeksi Pedis AP
1.                  Posisi pasien :
1.    Pasien duduk di atas meja pemeriksaan .
2.    Fleksikan lulut sisi yang akan diperiksa dengan menempatkan telapak kaki di atas meja pemeriksaan


Gambar 4.7 posisi pasien

3.                  Posisi objek :
1.    Posisikan kaset di bawah telapak kaki
2.    Pada posisi kaki ini keseluruhan plantar di letakkan di bawah kaset
3.    Berikan shield gonadsgonads


Gambar 4.8 posisi objek
4.                  Central ray                  :Vertikal tegak lurus ke arah metatarsal ketiga
5.                  Central point               : Metatarsal ketiga
6.                  FFD                             : 90 CM
7.                  Film                             : 30 x 40 cm
8.                  Posisi tabung x-ray     : Katoda di arah kan ke bagian distal

1.                   Proyeksi Pedis AP Posisi Tube Proximal
1.                  Posisi pasien
1.    Pasien duduk di atas meja pemeriksaan .
2.    Fleksikan lulut sisi yang akan diperiksa dengan menempatkan telapak kaki di atas meja pemeriksaan



Gambar 4.9 posisi pasien
3.                  Posisi objek :
1.    Posisikan kaset di bawah telapak kaki
2.    Pada posisi kaki ini keseluruhan plantar di letakkan di bawah kaset
3.    Berikan shield gonads


Gambar 4.10 posisi objek
4.                  Central ray                  :Vertikal  tegak lurus
5.                  Centarl point               : proximal talus
6.                  FFD                             : 90 CM
7.                  Film                             : 30 x 40 cm
8.                  Kriteria gambaran :
1.    Tampak gambaran proyeksi Pedis AP , dan metatarsal hingga ruas ruas digiti tampak
2.    Tampak proyeksi pedis AP dorsoplantar anterior tarsal ke talus
3.    Tampak digiti 1 – digiti 5 dan bagian distal digiti , medial dan proximal digiti
4.    Tampak marker





Gambar 4.11 hasil radiograf Os.Pedis
1.                  Pengukuran Densitas
Berikut hasil pengukuran densitas radiograf os Pedis :

Udara
Tulang
Jaringan
Katoda
3.2
0.83
0.91
Anoda
3.14
0.68
0.79

BAB V
KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan, kami menarik kesimpulan bahwa pada anoda yang sebagai tempat menumbuknya elektron arahnya tidak lurus namun memiliki sudut. Sudut ini dibentuk dengan tujuan agar sinar x yang dihasilkan keluar menuju window pada tabung sinar x dan jatuh tegak lurus dengan kaset. Sesuai dengan tujuannya tadi sudut yang dibentuk akan mengarah ke katoda. Karena sudut anoda yang mengarah ke katoda, maka intensitas sinar x akan meningkat lebih daripada di pusat sinar.
Pada hasil gambarannya dibagian yang sejajar dengan katoda densitasnya lebih tajam dibanding bagian yang sejajar dengan anoda. Karena hasil pengukuran dengan densitometer menunjukan bahwa bagian yang sejajar dengan katoda memiliki nilai densitas yang lebih besar.










DAFTAR PUSTAKA
Aksara, Binarupa, 1993.
Gros anatomi.
Ballinger, W, Philip, 1995.
Merril’s Atlas of radiographic Position Radiologic Procedure Vol : I, Eight Edition.
Rahman Nova, 2009
Radiofotografi Padang : Universitas Baiturrahmah
Syaifuddin, 2006.
Anatomi fisiologi untuk Siswa Perawat. EGC Jakarta.


 









Wednesday, October 11, 2017

proses terjadinya sinar x

Proses terjadinya sinar X



Terminologi dalam radiografi
1. Radiografi adalah proses pencatatan bayangan pada bahan yang peka terhadap radiasi dengan bantuan sinar sebagai sumber pencahayaan
2. Radiologi adalah ilmu yang mempelajari penggunaan dari sinar-x Gamma beta dan radiasi pengion lainnya baik untuk diagnosa maupun terapi
3. Teknik radiografi adalah tata cara pemotretan menggunakan sinar-x untuk memperoleh gambaran radiografi yang baik untuk membantu menegakkan diagnosa
4. Radiografi adalah foto rontgen ( Bayangan yang dihasilkan pada film rontgen)
5. Radiologist adalah dokter ahli radiologi atau radiolog
6. Radiografer adalah penata rontgen pekerja Atau sebutan pekerja radiologi


Syarat terjadinya sinar X: 
1. Terdapat tabung dioda (katoda dan anoda)
2. Ruang hampa ( sekitar katoda dan anoda)
3. Beda potensial yang tinggi atau tegangan tinggi
4. Pembangkit elektron atau kuat arus


Proses terjadinya sinar X atau produksi sinar X
1. Di dalam tabung dioda, apabila (filamen) katoda dipanaskan lebih dari 20000° C sampai menyala dengan menghantarkan listrik yang berasal dari transformator
2. Karena panas elektron elektron dari katoda (filamen) akan terlepas
3. Kemudian dengan tegangan tinggi Maka elektron elektron tersebut dipercepat gerakannya menuju anoda (target)
4. Elektron-elektron mendadak dihentikan pada anoda (target) sehingga terbentuk panas 99% dan sinar X 1%
5. Sinar-x dikeluarkan melalui Windows tabung


Note : 
1. Katoda bermuatan negatif terdiri dari filamen dan fokus Cup
   Filamen adalah tungsten kawat melingkar yang berfungsi sebagai  elektron selama selama produksi sinar X
2. Anoda bermuatan positif yang terdiri dari target dan perputaran tabung
      Target adalah bagian anoda yang dipukul oleh aliran elektron terfokus yang berasal dari katoda




Tuesday, September 12, 2017

Body Plane pada radiologi

Anatomi umum

Radiografer harus menguasai seluruh pengetahuan mengenai anatomi Psikologi dan osteologi untuk menghasilkan sebuah radiograf yang menunjukkan bagian-bagian tubuh yang diinginkan. Anatomi adalah istilah yang diterapkan untuk ilmu struktur tubuh. Psikologi adalah studi atau ilmu fungsi organ-organ tubuh. Osteologi adalah studi detail mengenai pengetahuan tubuh yang berhubungan dengan tulang tulang.
Radiografer harus mempunyai pemahaman umum mengenai sistem sistem tubuh dan masing-masing fungsinya. Perhatian khusus harus diberikan untuk menghasilkan pemahaman yang menyeluruh seputar sistem Skeleton atau rangka dan petunjuk-petunjuk permukaan yang digunakan pada lokasi bagian-bagian tubuh yang berbeda. Hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa radiografer harus dapat memvisualisasikan struktur-struktur internal yang akan di radiograf. Dengan menggunakan petunjuk-petunjuk eksternal radiografer dapat secara tepat memposisikan bagian tubuh untuk menghasilkan radiograf diagnostic sebaik mungkin.

Body Plane 
Dimensi itu penuh tubuh manusia dapat dilihat dari posisi anatomi. Dapat dibagi secara efektif melalui penggunaan gambaran bidang tubuh. Potongan bidang tubuh ini mengiris seluruh tubuh pada tingkat yang ditentukan dari segala arah. Berikut 4 bidang tubuh yang berdasar dalam radiografi : 

1. Sagital 
Sagittal plane membagi seluruh tubuh atau bagian tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Bidang ini membagi tubuh secara vertikal melalui depan ke belakang. Mid sagital Point adalah spesifikasi dari bidang sagital yang mana merupakan garis tengah dari tubuh dan membagi tubuh menjadi bidang bagian kiri dan bagian kanan..

2. Coronal
Coronal Plane membagi seluruh tubuh atau bagian tubuh menjadi bagian anterior dan posterior. Bidang ini membagi tubuh secara vertikal melalui Sisi satu ke Sisi Lainnya. Mid Coronal Plane adalah spesifikasi bidang sagital yang mana merupakan garis tengah dari tubuh dan membagi tubuh menjadi bagian anterior dan posterior..

3. Horizontal 
Bidang ini membagi tubuh menjadi bagian Superior dan inferior atau bagian bawah. Biasanya juga disebut transverse, axial / cross sectional plane.

4. Oblique
Oblik atau bidang miring adalah bidang-bidang yang tidak sesuai dengan ketiga spesifikasi ketiga bidang sebelumnya. Bidang bidang miring dapat berlokasi di sembarang lokasi seperti yang digunakan untuk pemeriksaan hati pada MRI.


Gambar : bidang tubuh



Gambar : mid sagital plane ( membagi tubuh menjadi bagian kiri dan bagian kan )
Mid coronal plane (membagi tubuh menjadi bagian anterior dan posterior) 

Gambar 


















Sumber
Ballinger, W, Philip, 2003.
Merril’s Atlas of radiographic Position Radiologic Procedure Vol : 2, 10th Edition. Mosby, St Louis.

Saturday, September 9, 2017

Gambaran radiograf terhadap posisi anatomi

Gambaran Radiograf terhadap Posisi Anatomi

Posisi anatomi

Radiograf biasanya berorientasi pada illuminator ataupun box sehingga seseorang melihat hasil gambaran bagian tubuh pada posisi anatomi. Acuan posisi Anatomi adalah pasien berdiri tegak dengan wajah dan mata menghadap ke depan tangan ekstensi dengan bagian Telapak tangan menghadap ke depan tumit rapat dan jari kaki menunjuk ke anterior. Ketika radiograf ditampilkan dengan cara ini pada illuminator bagian kiri pasien ada pada bagian kanan radiograf dan sebaliknya. Pekerja medis profesional selalu mendeskripsikan tubuh bagian tubuh atau pergerakan tubuh seolah-olah pada posisi anatomi sebenarnya.


Gambar : posisi anatomi.


Radiograf proyeksi posteroanterior (PA)

Gambar 1 mengilustrasikan bagian anterior atau depan dari darah pasien diletakkan dekat dengan Ir atau image reseptor untuk proyeksi posteroanterior. 


Gambar : posisi pasien pada pemeriksaan thorax dengan proyeksi PA

Gambar : Gambaran radiograf thorax pada proyeksi PA


Gambar 2 mengilustrasikan bagian posterior atau belakang dari dada pasien diletakkan dekat dengan Ir atau image reseptor untuk proyeksi antero posterior.
Gambar : Posisi pasien pada pemeriksaan thorax dengan proyeksi AP 

Gambar : radiograf pemeriksaan thorax dengan proyeksi AP 


Terlepas dari apakah bagian permukaan tubuh anterior atau posterior yang dekat dengan Ir atau image radiograf harus berada pada posisi anatomi.

Pengecualian untuk panduan pemeriksaan manus digiti wrist joint dan pedis. Untuk radiograf manus digiti dan wrist joint secara rutin ditampilkan dengan di digiti menghadap pada langit-langit. Untuk radiografi pedis dan digiti selalu meletakkan gambaran pada illuminator atau viewing box dengan jari-jari kaki menuju ke langit-langit.

Gambar : posisi bagian tubuh pasien pada pemeriksaan manus dengan proyeksi PA

Gambar A : posisi manus pada IR 
Gambar B : radiograf manus yang diletakan pada illuminator dengan digiti menghadap ke atas 


Radiograf proyeksi lateral 
Radiograf proyeksi lateral adalah bagian tubuh kiri atau kanan pasien diletakkan pada Ir atau image reseptor. Untuk mendeskripsikan hasil radiograf yaitu bagian Sisi pasien yang dekat dengan Ir selama pemeriksaan adalah sisi pada gambar yang dekat dengan illuminator atau viewing box.

Gambar : posisi pasien untuk pemeriksaan thorax lateral, dengan bagian sisi kiri pada pasien menempel pada IR 
Gambar :gambaran radiograf thorax lateral yang diletakan pada illuminayor atau viewing box 



Radiograf pada proyeksi oblique
Gambaran radiograf oblik adalah ketika tubuh pasien dirotasikan sehingga proyeksinya bukan bagian depan belakang atau lateral.


Gambar : posisi pasien left anterior oblique (LAO) untuk proyeksi PA Oblique  pada pemeriksaan Thorax

Gambar : Radiograf PA Oblique pemeriksaan thorax yang diletakan pada illuminator 


Sumber : 




Frank, Eugene D.
Merril’s Atlas of radiographic Positioning and Procedure Vol : 1, 12th Edition. Mosby, St Louis.











Friday, September 8, 2017

Gambaran Radiograph menurut kualitas gambaran

Gambaran Radiograph


Tiap langkah dalam melakukan prosedur radiograf harus secara akurat dan lengkap dilakukan sehingga dapat memastikan bahwa informasi yang terekam pada reseptor gambar atau film adalah maksimum. Informasi yang didapat sebagai hasil dalam melakukan pemeriksaan radiologi secara umum untuk menunjukkan ada atau tidaknya patologi atau trauma. Informasi ini akan membantu dalam mendiagnosa dan merawat atau mengobati pasien. Keakuratan merupakan hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan radiologi.
Radiografer harus sepenuhnya mengetahui tentang pola pembuatan gambar radiografi dengan mengetahui struktur anatomi normal. Untuk meningkatkan kemampuan radiografer dalam mengenali secara tepat dan memperbaiki atau mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan dalam teknik radiografer harus mempelajari gambaran radiografi dari poin-poin berikut:
1. Superposisi
Hubungan superposisi seperti ukuran, bentuk, posisi dan penyudutan harus diperhatikan 

2. Struktur yang berdekatan
Tiap struktur anatomi harus dibandingkan dengan struktur-struktur yang berdekatan.


3. Densitas Optikal
Densitas optical juga dikenal dengan derajat kehitaman. Densitas Optika pada radiograf harus berada pada reaksi diagnostic. Bila radiograf terlalu terang atau gelap keakuratan diagnosa akan menjadi sulit dan tidak memungkinkan. Jika perubahan teknik diperlukan, maka faktor control densitas harus diperhatikan :
a. Milliamperage (mA)
b.  Exposure time (second)
c. Milliampere-second (mAs)

Gambar : radiograf knee joint dengan densitas yang rendah
Gambar : radiograph dengan densitas yang cukup, dapat memperlihatkan seluruh aspek tulang dan jaringan disekitar tulang 
Gambar : radiograph knee joint dengan densitas yang terlalu tinggi


4. KONTRAS
Kontras atau perbedaan densitas antara dua area pada radiograf, pada radiograf harus dapat membedakan struktur-struktur yang berdekatan dengan densitas struktur jaringan. Gambar kontraksi rendah memiliki densitas yang tinggi dan gambar kontras yang tinggi memiliki densitas yang rendah. Faktor utama untuk mengontrol kontras radiografi adalah kilo voltage peak (kVp).

Gambar : radiograph elbow joint dengan kontras yang rendah 
Gambar : radiograph elbow joint dengan kontras yang tinggi


5. Detail
Kemampuan untuk memvisualisasikan struktur-struktur kecil, harus cukup untuk memperjelas bagian anatomi yang diinginkan. Faktor utama untuk mengontrol detail yaitu:
a. Geometry
b. Film
c. Jarak
d. Screen
e. Ukuran focal Spot
f. Pergerakan

Gambar : radiograph memperlihatkan detail yang kurang pada gambaran arteri di kepala
Gambar : radiograph memperlihatkan detail yang baik pada gambaran arteri di kepala

6. Magnifikasi
Modifikasi dari bagian tubuh harus diperhatikan, dengan menggunakan faktor pengontrol jarak objek ke reseptor( object to Image receptor distance(OID)) atau jarak antara bagian tubuh dari kaset,  dan jarak dari image reseptor ke sumber(source to Image receptor distance(SID)), atau jarak dari sumber sinar X atau tabung sinar-x dari kaset. Semua radiografi memiliki beberapa magnifikasi karena seluruh bagian tubuh berbentuk tiga dimensi.

7. Distorsi
Bentuk bertorsi dari bagian tubuh harus dapat diperhatikan, faktor utama untuk mengontrol yaitu:
a. Alignment
b. Central Ray
c. Bagian anatomi
d. Kaset
e. Penyudutan
Sebagai contoh dari bagian tubuh yang mengalami distorsi adalah ketika tulang proyeksi memanjang atau memendek dari ukuran seharusnya. Distorsi adalah kesalahan dari ukuran dan bentuk dari struktur anatomi.
Suatu pengetahuan yang baik mengenai anatomi dan kemampuan untuk menganalisa radiograph secara tepat merupakan suatu yang sangat penting, terutama bagi radiografer yang bekerja tanpa seorang dokter. Dalam kondisi seperti ini dokter ahli harus dapat mempercayakan radiografer untuk melakukan fase-fase technical pengujian tanpa bantuan.

Sumber :


Frank, Eugene D.
Merril’s Atlas of radiographic Positioning and Procedure Vol : 1, 12th Edition. Mosby, St Louis.

Monday, August 21, 2017

Kode Etik Teknologi Radiologi

Etika dalam Teknik Radiologi


Etika merupakan istilah yang diterapkan pada ilmu yang mempelajari sikap dan tingkah laku antara satu dengan lainnya. Dasar kerja dalam profesi medis membutuhkan aturan-aturan yang ketat. Dokter ahli, memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan pasien, dan sangat tergantung pada kejujuran seluruh keprofesionalan personil kesehatan dalam memberikan saran dan melaporkan kesalahan-kesalahan.
Kode etik secara inisial dikembangkan dan diadopsi oleh American Society of Radiologyc Technollogist (ASRT). Canadian Association of Medical Radiation Technollogist (CAMRT), mengadopsi kode etik yang sama. Semua radiografer harus mengenal kode etik tersebut.


Kode Etik American Society of Radiologic Technologist : 

1. Ahli-ahli teknologi hari login memposisikan dirinya dalam suatu sikap yang profesional, respon atau tanggapan terhadap kebutuhan pasien dan mendukung rekan rekan sekerja dan tergabung dalam peningkatan kualitas perawatan pasien.
2. Ahli-ahli teknologi radiologi aktif memajukan atau meningkatkan objektif prinsip profesi untuk memberikan pelayanan pada kemanusiaan dengan kesadaran penuh dan meningkatkan martabat umat manusia.
3. Oleh-oleh teknologi radiologi memberikan perawatan pasien dan pelayanan yang tidak terbatas pada kedudukan seseorang atau penyakit penyakit alamiah,  dan tanpa diskriminasi berkenaan dengan jenis kelamin, suku bangsa, kepercayaan, agama atau status sosial ekonomi.
4. Ariani teknologi radiologi mempraktekkan teknologi berdasarkan pengetahuan teori dan konsep-konse, menggunakan peralatan dan aksesoris-aksesoris berdasarkan tujuan yang telah di desain dan melakukan prosedur-prosedur dan teknik-teknik secara tepat.
5. Ahli-ahli teknologi radiologi menilai suatu keadaan, latihan perawatan, kebijaksanaan dan keputusan, memikul tanggung jawab terhadap keputusan-keputusan profesional dan memberikan tindakan yang terbaik untuk pasien.
6. Ahli-ahli teknologi radiologi bertindak sebagai seorang agen melalui observasi dan komunikasi untuk menghasilkan informasi yang berkenaan dengan dokter ahli untuk membantu dalam diagnostik dan manajemen pengobatan pasien, dan mengakui interpretasi dan diagnosis di luar cakupan praktis profesi.
7. Ahli-ahli teknologi radiologi menggunakan peralatan dan asesoris nya, menggunakan teknik dan prosedur-prosedur, melakukan tindakan dengan pelayanan sesuai dengan standar dan menunjukkan keahlian dalam membatasi radiasi terhadap pasien, diri sendiri dan anggota-anggota lain dan perawatan kesehatan.
8. Ahli-ahli teknologi radiologi mempraktekkan etika dengan berperilaku yang sesuai dengan profesinya dan melindungi hak pasien untuk menghasilkan gambaran yang berkualitas.
9. Ahli-ahli teknologi radiologi respect terhadap kepercayaan diri dalam hal profesional, melindungi hak privasi pasien dan membuka informasi-informasi rahasia hanya sesuai yang diminta oleh hukum atau untuk melindungi keselamatan individu atau komunitas.
10. Ahli-ahli teknologi radiologi secara kontinyu berusaha keras untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan nya dengan berpartisipasi dalam aktivitas aktivitas pendidikan dan profesional, berbagi pengetahuan dengan teman sejawat dan menemukan sesuatu yang baru dan inovatif dalam praktis profesional. Berarti dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan adalah melalui pendidikan yang berkualitas dan profesional.


Kode Etik Canadian Association of Medical Technologists (CAMRT)

CAMRT mengakui tugasnya untuk mengidentifikasi dan memperkenalkan standar profesional sikap dan performance. Standar pelaksanaan tersebut adalah tanggung jawab profesional tiap individu.

Kode etik ini diadopsi pada juni 1991, ditujukan untuk setiap member itu: 

1. Memberikan pelayanan dengan martabat yang respect terhadap suhu orang berkenan dengan suku bangsa, daerah, warna kulit, jenis kelamin, agama, umur, jenis penyakit, kelainan fisik atau mental.
2. Memperbesar kepercayaan dan rasa percaya diri masyarakat mau ditandai television yang tinggi mencakup kompetensi tugas dan penampilan.
3. Melakukan seluruh prosedur-prosedur technical dengan mengacu pada standar keselamatan radiasi langsung.
4. Mempraktekkan prosedur-prosedur tersebut untuk kualitas penting kecuali prosedur-prosedur iya sebelumnya tua ditugaskan oleh seorang ahli medis yang tepat dan untuk ahli-ahli teknologi yang telah mendapat pelatihan yang cukup mengenai kemampuan menerima tingkat kompetensi.
5. Mempraktekkan hanya disiplin disiplin teknologi radiasi medik bagian telah mendapat ijazah oleh CAMRT dan secara langsung berkompeten.
6. Sadar akan tugasnya untuk mencari informasi diagnosis pasien dari dokter ahli pengobatannya pada instansi instansi tersebut di mana sebuah ulasan yang memiliki ciri-ciri tersendiri terhadap ahli yang tepat dapat membantu men diagnosa atau mengobati, ahli-ahli teknologi dapat merasakan kewajiban moral yang diberikan kepadanya. 
7. Menjaga dan melindungi kerahasiaan informasi baik medik atau personal yang diperoleh melalui contact profesional dengan pasien. Sebuah eksepsi dapat menjadi tempat saat penangkapan informasi tersebut penting untuk mengobati pasien, keselamatan pasien lainnya atau prosedur perawatan kesehatan atau persyaratan legal.
8. Bekerja sama dengan provider provider perawatan kesehatan
9. Meningkatkan seni dan ilmu teknologi radiasi medik melalui pengembangan profesional secara terus-menerus.
10. Mengakui bahwa partisipasi dan dukungan asosiasi kami merupakan tanggung jawab profesional. 






Terjemahan : 

Frank, Eugene D.
Merril’s Atlas of radiographic Positioning and Procedure Vol : 1, 12th Edition. Mosby, St Louis.

Tuesday, August 8, 2017

Intensitas berkas sinar X

A. Pengertian

Intensitas berkas sinar X menyatakan jumlah proton yang terdapat dalam berkas pada suatu jarak tertentu dari sumber dan pada luasan bidang penyinaran tertentu serta dalam batasan waktu penyinaran tertentu. Intensitas sering juga disebut kuantitas. Intensitas Seberkas sinar X bersifat heterogen artinya di dalam berkas terdapat berbagai macam energi dan panjang gelombang. Berkas sinar X berbentuk kerucut di mana berkas terpancar menyebar atau divergen dari sumbernya. Luas lapangan sinaran makin jauh dari sumber semakin besar tetapi intensitas berkas sinar X Semakin jauh dari sumber semakin kecil.
Menurut tempat dan posisinya intensitas berkas sinar X dapat digolongkan dalam tiga bagian yaitu:
1. Intensitas ketika diproduksi berada dalam tabung rontgen terpancar dari bidang fokus di dalam ruang hampa Insert tube.
2. Intensitas Sinar guna atau berkas primer yaitu intensitas berkas sinar X setelah melewati window tabung rontgen sebelum mengenai objek. Posisinya berawal dari window hingga menjangkau objek yang dikenainya.
3. Intensitas berkas sinar X telah menembus objek atau berkas sekunder yaitu sejumlah energi yang melewati atau menembus objek yang disinari.

Gambar Intensitas berkas sinar x


Setiap golongan intensitas tersebut di atas masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri ditinjau dari proses terbentuknya dan faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya intensitas pada tempat tersebut.
Untuk itu perlu dibahas masing-masing golongan intensitas berkas sinar X tersebut intensitas ketika diproduksi dalam tabung intensitas berkas primer atau sinarguna dan intensitas setelah menembus bahan atau sekunder.

B. Intensitas ketika diproduksi dalam tabung rontgen

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya intensitas ketika diproduksi adalah:
1. Nomor atom bahan target(Z)
2. Arus tabung(mA)
3. Tegangan Puncak tabung(kVp)
4. Faktor rektifikasi(F)
Keempat faktor tersebut berbanding lurus terhadap produksi berkas sinar X di dalam tabung( intensitas ketika diproduksi = I), dengan catatan bahwa faktor tegangan Puncak (kVp)baru memiliki pengaruh yang signifikan jika diperhitungkan dalam nilai kuadrat(kVp)².
Kesebandingan I dengan faktor-faktor:Z, mA, (kVp)² dan F dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:
I ~ Z x mA x (kVp)² x F


C. Intensitas berkas Sinar guna(primer)

Intensitas berkas Sinar guna merupakan bagian yang terpenting dalam berkas sinar X Karena merupakan bagian yang sangat menentukan dalam penggunaan berkas sinar X. Berkas Sinar(primer) dimulai dari window tabung rontgen sampai ke permukaan objek atau benda yang di sinari. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya intensitas berkas Sinar guna adalah ukuran fokus yang digunakan, ketebalan filter, jarak dari sumber, luas lapangan penyinaran, waktu penyinaran dan heel effect.

1. Ukuran fokus yang digunakan
Dalam radiografi dikenal dengan ukuran bidang fokus yaitu desain luas bidang tumbuk untuk tumbuhkan elektron proyektil dengan bahan target. Ada dua ukuran masing-masing Adalah fokus besar dan fokus kecil. Bidang fokus yang lebih luas menampung tumbukan lebih banyak yang berarti memungkinkan terjadinya jumlah foton sinar X lebih banyak. Dan fokus kecil adalah sebaliknya. Dengan demikian maka fokus besar menghasilkan intensitas berkas lebih banyak sedangkan fokus kecil menghasilkan intensitas berkas lebih sedikit.

2. Ketebalan filter
Filter dalam pesawat radiologi diagnostik terdiri dari inherent filter atau filter dalam dan additional filter-filter tambahan. Keduanya disebut sebagai total filter. Filter dipasang pada window berguna untuk menyaring berkas sinar X. Foton foton yang energinya lemah dan tidak dapat digunakan untuk menembus bahan sedapat mungkin ditiadakan menggunakan filter. Dengan demikian berkas sinar X akan menjadi lebih rata kemampuannya atau lebih homogen berkasnya. Tetapi di sisi lain dengan menggunakan filter berarti jumlah proton atau intensitas berkas berkurang karena harus ada yang diserap oleh filter dan tidak dapat melewati window.
Gambar ketebalan filter terhadap intensitas berkas sinar x

Tujuan penggunaan filter diagnostic:
a. Harga bekas heterogen menjadi lebih homogen sehingga kualitasnya lebih baik
b. Mengurangi jumlah foton sinar X yang energinya rendah dan tidak dapat dimanfaatkan dalam pencitraan sehingga tidak perlu keluar dari tabung
c. Mengurangi dosis kulit akibat penyinaran oleh energi foton rendah

3. Jarak dari sumber
Sumber dari berkas sinar x adalah bidang fokus . Jarak dari sumber yang dimaksud adalah jarak dari fokus ke bidang dimana intensitas berkas diukur. Pusat berkas tegak lurus terhadap bidang pengukuran. Intensitas berkas sinar x pada jarak yang makin jauh dari sumber Makin kecil dan berlaku sebaliknya.
Hubungan tersebut dinyatakan melalui hukum kuadrat jarak terbalik (inverse square low).
Gambar jarak dari sumber terhadap intensitas berkas sinar X

Monday, August 7, 2017

RADIOSENSITIVITAS

RADIOSENSITIVITAS 


A. Pengertian 
Menurut Henry Bequerel, 1896, radioaktifitas didefinisikan sebagi disintegritas ( suatu materi meluruh/mengalami peluruhan) inti secara spontan sari satu atom atau lebih disertai pancaran radiasi. Inti yang tidak stabil senantiasa mengalami disintegritas dalam prosesnya menuju kestabilan. Disintegritas  atau pecah inti mengakibatkan pancaran radiasi. Bentuknya radiasi yang dipancarkan dapat merupakan radiasi partikel atau radiasi foton atau keduanya.
iti yang tidak stabil dapat ditemui sebagai elemen berat yang umumnya memiliki nomor atom yang lebih besar dari 83. inti tidak stabil juga dapat dibuat menggunakan reaktor, untuk merusak kestabilan inti dengan cara melakukan reaksi fissi ( fission product) atau memborbardir inti ( netron/proton bombardement)

B. Unsur Radioaktif 
Unsur-unsur dengan inti tidak stabil dinamakan unsur radioaktif. Terdapat banyak jenis unsur radioaktif, yang dapat dipelajari melalui tabel periodik sistem. Unsur tidak stabil hakekatnya karena tidak memiliki keseimbangan jumlah proton dan netron dalam inti. 

Gambar : Garis Kestabilan

Terdapat beberapa bentuk inti atom berdasarkan komposisi jumlah proton dan jumlah netron dalam inti.
Isotop, yaitu beberapa inti atom yang memiliki jumlah proton ssama, tetapi jumlah netronnya berbeda
Isobar, yaitu inti-inti dimana apabila jumlah protonnya bertambah, jumlah netronnya berkurang
Isoton,  yaitu beberapa inti atom yang meiliki jumlah netron sama tetapi jumlah protonnya berbeda 

Inti tak stabil (radioaktif) berproses menuju stabil dengan memancarkan tiga jenis energi radiasi yaitu alpha, beta dan gamma. Proses berlangsung terus-menerus, aktivitasnya makin lama makin berkurang hingga pada akhirnya mencapai stabil. setelah stabil tidak lagi memancarkan radiasi.




Gambar : Inti tak stabil memancarkan radiasi, menuju stabil

Apabila suatu unsur radioaktif ditempatkan dalam kontainer tertutup, kemudian dibuat lubang kecil, maka akan keluar dari lubang tersebut radiasi akibat proses radioaktivitas dalam kontainer.
Radiasi yang berupa foton gamma akan keluar, dan arahnya tidak dapat dipengauhi baik oleh medan magnet maupun medan listrik. Pancaran alpha, yaitu inti helium akan membelok dalam pengaruh medan magnet. Pancaran beta yaitu elektron akan membelok dalam pengaruh medan listrik .


C. Satuan aktivitas 
Aktivitas unsur radioaktif menyatakan jumlah kejadiann disintegritas tiap detik dari suatu smber radioaktif. Oleh karena itu disebut sebagai aktivitas sumber radioaktif. Aktivitas sebagai besaran memiliki satuan, yaitu Bequerel (Bq) dan Curie (Ci).
 Awalnya Bequerel menyatakan bahwa aktivitas disebut 1 apabila terjadi 1 kali disintegritas tiap detik. Jadi1 Bq = disintegritas/detik. Tetapi kenyataanya dalam satu detik dimungkinkan terjadi banyak sekali disintegritas. Oleh karena itu kemudian Curie mengoreksi dengan menyatakan bahwa aktivitas disebut 1 apabila terjadi 3.7 x 1010 disintegrasi/detik.
Hubungan satuan Bequerel dan Curie menjadi : 1Ci = 3.7 x 1010 Bq


D. Peluruhan
 Aktifitas unsur radioaktif berkurang secara gradual,hingga akhirnya tidak melakukan aktivitas lagi, menjadi stabil. Proses penurunan aktivitas secara gradual tersebut dinamakan peluruhan(decay).  Unsur radioaktif meluruh dapat diperhitungkan aktivitasny, apabila diketahui aktivitas sumber mula-mula, angka peluruhan unsur radioaktif tersebut, serta lamanya kegiatan peluruhan terjadi.


E. Half lilfe (half value period)
 Half life adalah waktu yang digunakan oleh suatu unsur radioaktif untuk ,meluruh sehingga aktifitasnya menjadi 50 %.



Gambar Half life pada fosfor, yodium dan radon


F. Transmutasi 
 Inti tak stabil seteah meluruh akan menjadi inti stabil. Inti yang sudah menjadi stabil tidak lagi sama  dengan inti semuala. Jumlah proton berubah, jumlah netron berubah, sehingga namanyapun juga berubah. Perubahan tersebut dinamakan Transmutasi.



Pancaran alpha beta dan gamma

Pancaran alpha beta dan gamma 

A.  Pengertian
Pancaran atau radiasi partikel alfa partikel beta dan foton gama terjadi dalam proses radio aktivitas. Sebagai radiasi memiliki ciri-ciri yaitu :
1. Memiliki bentuk partikel atau foton
2. Terpancar dari sumber, dalam hal ini sumbernya adalah unsur radioaktif
3. Memiliki energi sebagai kekuatan pancaran

B. Pancaran alpha
Pancaran alpha berbentuk partikel yaitu inti helium yang terdiri dari dua proton dan dua neutron. Jadi pancaran inti helium adalah radiasi alpha. Radiasi ini umumnya terpancar dari unsur radioaktif yang memiliki nomor atom di atas 80.
Sifat-sifat pancaran alpha :
1. Dibanding partikel beta gerakannya lebih lambat
2. Kemampuan ionisasi per unit lintasan lebih besar
3. Sangat cepat kehilangan energi
4. Lintasan di bahan solid sangat pendek
5. Data diberhentikan oleh lapisan tipis

C. Pancaran beta negatif
Beta negatif adalah elektron. Pancaran beta negatif disebabkan ketidakseimbangan inti di mana jumlah neutron lebih banyak dari jumlah proton. Secara internal inti berproses untuk menuju keseimbangan baru dengan mengubah neutron menjadi proton. Perubahan tersebut disertai pancaran beta negatif.
Sifat-sifat pancaran beta negatif
1. Dapat bergerak dengan kecepatan tinggi
2. Dibanding dengan pancaran alfa ionisasi per unit lintasan lebih kecil
3. Besarnya lintasan tergantung pada besarnya energi
4. Dapat menembus jaringan lunak
5. Dapat dipercepat gerakannya sehingga energinya meningkat

D. Pancaran beta positif
Beta negatif adalah positron. Pancaran beta positif disebabkan ketidakseimbangan inti di mana jumlah proton lebih banyak dari jumlah neutron. Secara internal inti berproses untuk menuju keseimbangan baru dengan mengubah proton menjadi neutron. Perubahan tersebut disertai pancaran beta positif.
Sifat-sifat pancaran beta positif
1. Pada hakekatnya beta negatif dan beta positif adalah partikel elektron tetapi muatan nya berbeda. Oleh karena itu maka sifat-sifat pacarannya sama.
2. Perbedaannya beta positif tidak dapat bertahan lama karena akan segera bergabung jika bertemu dengan elektron.

E. Pancaran foto gamma
Pancaran gamma adalah pancaran energi foton bukan materi. Pancaran gamma terjadi karena suatu inti dalam menuju stabil tidak perlu lagi melakukan perubahan partikel tetapi di dalamnya masih menyimpan sejumlah energi. Inti dalam keadaan demikian disebut sebagai excited states. Ketika inti yang excited state melepaskan energi yang dimilikinya maka energi yang dilepas menjadi photon gamma. Peristiwa pancaran gamma terjadi pada berbagai peluru han inti sebagai contoh misalnya pada peluruhan cobalt menjadi nikel stabil.
Sifat-sifat pancaran gamma
1. Pancaran gamma merupakan pancaran energi foton sebagaimana bentuk sinar x. Pancaran gamma hasil dari peluru han radioaktif pancaran sinar x hasil dari produksi dengan pesawat sinar x.
2. Memiliki daya tembus kuat tergantung pada besarnya energi. Tiap-tiap pancaran gamma dari unsur that untuk memiliki energi tertentu.
3. Pancaran gamma banyak digunakan dalam diagnostik kedokteran nuklir maupun dalam radioterapi